“Barokah” (Bakti Roso Sosial lan Sedekah) Dimas Diajeng #2

DSC_0275

Sebagai program kerja tahunan dalam bulan suci ramadhan, Paguyuban Dimas Diajeng Jogja kembali menggelar acara bertajuk BAROKAH Dimas Diajeng #2 (Bakti Roso Sosial lan Sedekah Dimas Diajeng) di Panti Asuhan Balita Yayasan Gotong Royong pada hari Sabtu 12 Juli 2014. Kegiatan ini merupakan kali kedua sejak dimulai tahun 2013 lalu yang diselenggarakan di Panti Wredha Budi Dharma Giwangan. Kegiatan Barokah sendiri memang dikonsep dengan menekankan Bakti Roso Sosial, dimana keluarga Paguyuban Dimas Diajeng Jogja ingin meluangkan waktu barang sehari untuk berbagi rasa, berbagi cerita dengan saudara-saudara yang kurang beruntung, walaupun kami juga berupaya untuk memberikan sedikit rizki untuk saudara kami tersebut.

Unlike Film Festival

Yogyakarta berkesempatan menjadi tuan rumah penyelenggara festival film dan budaya internasional. Pada penyelenggaraan festival ini tidak hanya diisi dengan pemutaran film saja akan tetapi juga diisi dengan tarian, musik dan pembacaan cerita pendek. Festival film ini berlangsung dari tanggal 16-18 Maret 2014 di Hotel Jogja Village Inn Yogyakarta. Pada kesempatan kali ini hadir pula sutradara Nia Dinata dan seniman-seniman perfilman lainnya.

Festival film ini mulanya hadir di negara Yunani dan Denmark. Di Indonesia sendiri festival ini baru diadakan pertamakali dan digelar di Yogyakarta.  Tujuan festival ini dilakukan adalah untuk mendukung seniman muda lokal untuk membangun jejaring dengan seniman internasional.

Ribuan Anak Bergembira di SFF Jogja 2013

DSC_0372 copyBagi anak-anak mendengar kata sains, mungkin bisa jadi menjadi sesuatu yang susah dan membosankan. Namun, hal itu tidak berlaku di Science Film Festival Jogja 2013. Program besutan Goethe-Institut ini merupakan festival yang paling besar dan telah berlangsung paling lama di dunia. Program ini bertujuan mengenalkan bahwa belajar sains itu mudah dan menyenangkan menggunakan media film.

Festival ini pertama kali diselenggarakan di Thailand pada tahun 2005, dan kemudian dikembangkan ke Kamboja, Indonesia, Yordania, Laos, Myanmar, Palestina, Filipina, Uni Emirat Arab dan Vietnam. Di masing-masing negara terjalin kerjasama erat dengan mitra-mitra lokal. Menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi Paguyuban Dimas Diajeng Jogja

Pekan Flora Flori Nasional 2013

PF2NPada tanggal 2 Oktober 2013 Dimas Diajeng Kota Yogyakarta mengikuti Pekan Flora Flori 2013. Pameran ini merupakan ajang Pameran Hortikultura Indonesia berskala internasional yang menjadi agenda tahunan nasional Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian. Bersama dengan Dimas Diajeng Sleman, Putra Putri Bantul dan Dimas Diajeng DIY diarak menggunakan andong yang sudah dihias dengan palawija yang begitu kreatif dan cantik.

Kota Yogyakarta dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan PF2N 2013 karena Yogyakarta dinilai memiliki potensi yang luar biasa untuk mendukung kemajuan hortikultura nasional. Adanya sumber daya yang dimiliki Yogyakarta antara lain potensi sumber daya manusia,

Berbagi Cerita di Panti Wredha Budi Dharma

DSC_0855Kalau biasanya kita mendengar istilah bakti sosial ketika memasuki bulan Ramadhan dengan membagikan buku, baju atau sembako gratis, Paguyuban Dimas Diajeng Jogja mengadakan sebuah kegiatan bakti sosial yang berbeda dari biasanya. Kegiatan tersebut bertajuk  BAROKAH, dimaknai sebagai Bakti Roso Sosial lan Sedekah.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 2013, Pukul 14.00 WIB, di Panti Wredha Budi Dharma Giwangan. Dalam kegiatan ini Paguyuban Dimas Diajeng Jogja mengadakan

Ngonthel Pinter

G7D_6301Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota besar di Indonesia.  Sebagai kota pendidikan dan kebudayaan, Yogyakarta tumbuh menjadi kota yang memiliki toleransi tinggi dalam akulturasi budaya sehingga membentuk karakter kota Yogyakarta. Keanekaragaman budaya di Yogyakarta juga menjadi salah satu potensi lokal Yogyakarta. Mulai dari budaya Belanda, Tionghoa juga Mataram Islam yang menarik perhatian. Selain akrab dengan sebutan kota budaya, perkembangan dunia yang pesat membuat Yogyakarta banyak didatangi pelajar dari seluruh penjuru Indonesia sehingga Yogyakarta disebut kota pelajar. Dengan latar belakang ini, Kelompok 3 Finalis Dimas Diajeng Kota Jogja 2013 menyelenggarakan sebuah program untuk menambah ilmu pariwisata dan budaya dengan cara yang menyenangkan  (fun) kepada para peserta dan masyarakat, yaitu bersepeda bersama sambil mengunjungi ikon-ikon pariwisata yang ada di Kota Yogyakarta.

Tourist Information Service

Dimas dan Diajeng Kota Jogja, tidak hanya bertugas seperti yang kebanyakan orang duga yang hanya tampil dalam pawai atau mendampingi Kepala Dinas atau pejabat lainnya dalam suatu acara. Tetapi Dimas dan Diajeng juga aktif dalam kegiatan promosi atau memperkenalkan pariwisata Kota Jogja. Salah satu agenda yang sering dilakukan adalah bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta serta Himpunan Pramuwisata Indonesia mengadakan stand Tourist Information Service. Stand ini diadakan setiap menjelang, selama dan sesudah musim liburan berlangsung (peak season) di beberapa titik strategis di Kota Yogyakarta.
Dimas dan Diajeng diatur secara bergiliran untuk berjaga di Stand Tourist Information ini.

Tari Golek Lambang Sari

Kekayaan budaya dan seni tradisional menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Yogyakarta yang memiliki predikat sebagai kota budaya menekankan nilai tradisi dalam kehidupan sehari-harinya. Banyak sekali seniman yang kemudian merepresentasikan kegiatan sehari-harinya dalam sebuah karya seni.
Adalah tari Golek Lambangsari yang menceritakan tentang seorang gadis yang sedang beranjak dewasa. Gadis ini diceritakan sebagai sosok yang mulai pandai bersolek dengan di dalamnya ditampilkan berbagai macam gerakan seperti seseorang sedang memegang cermin, memasang gincu, memakai bedak dan sebagainya.
Tari ini pertamakali diciptakan oleh KRT Purbaningrat dan masuk dalam kategori tari klasik yang ditarikan dengan ragam tari klana alus. Diiringi dengan gendhing seperti nama tarian tersebut yaitu gendhing Lambangsari.
Semula tari ini satu-satunya tari yang dimainkan oleh seorang putri tunggal seperti yang dimaksud dalam judul tarian ini.

Pameran “Ayo ke Jogja!” di Kota Malang

Pada tanggal 10 – 12 November 2012, Paguyuban Dimas Diajeng Jogja bersama Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta mengunjungi Kota Malang dalam rangka menyelenggarakan acara yang bertajuk “Ayo ke Jogja”. Acara ini menampilkan pameran pariwisata yang ada di Kota Yogyakarta, baik wisata kuliner, wisata pendidikan, wisata budaya maupun wisata minat khusus dan kerajinan. Selain itu, ada juga penampilan dan pertunjukkan seni yang dibawakan oleh Dimas Diajeng Kota Jogja. Acara ini merupakan salah satu program kerja dari Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta untuk mempromosikan wisata-wisata yang ada di Kota Yogyakarta.
Banyak hal yang dipamerkan selama tiga hari di Kota Malang. Mulai dari wisata kuliner seperti Bakpia, Wingko dan juga Tela Cake. Kemudian ada pula pameran kerajinan Batik serta Tenun Lurik. Selain itu, dipromosikan juga objek-objek wisata baru yang ada di kota Yogyakarta, salah satunya yaitu XT Square.
Sehari sebelum diselenggarakannya acara tersebut, Dimas Odi dan Dimas Surya mengadakan promosi yang bekerjasama dengan Radio Kencana FM Malang untuk berbincang-bincang mengenai acara “Ayo ke Jogja” ini.

Upacara Merti Desa

Yogyakarta, sebuah kota yang  selalu menyimpan sejuta  keistemewaan. Tidak hanya penduduknya yang dikenal dengan keramahannya atau pun peninggalan sejarah yang bernilai tinggi, namun juga memiliki kearifan lokal yang sangat banyak. Salah satunya Merti Desa atau bersih desa. Pada hakikatnya merupakan sebuah kegiatan yang menjadi simbol rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas segala karunia yang diberikan-Nya. Karunia tersebut bisa berupa apa saja seperti rezeki, keselamatan atau juga kesalarasan dan ketentraman. Lebih dari itu, Merti Desa juga merupakan sarana untuk para penduduk bisa membina tali silaturahmi, saling menghormati, serta saling menghargai.
Selain sebagai wujud rasa syukur kepada Yang Maha Esa, Merti Desa juga merupakan sebuah perwujudan keselarasan manusia dengan alam. Dalam upacara Merti Desa selalu ada Gunungan yang dijadikan persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Gunungan tersebut isinya bisa bermacam-macam. Namun pada umumnya Gunungan dibuat dari hasil bumi lokal seperti buah pisang, ketela rambat atau sayur-sayuran.
Tata cara Merti Desa biasanya diawali dengan pengambilan air dari sendang atau sumber air setempat dengan menggunakan kendi.

Design Downloaded from free wordpress themes | free website templates | Free Web Icons | Funny Sport Videos.