Pekan Flora Flori Nasional 2013

PF2NPada tanggal 2 Oktober 2013 Dimas Diajeng Kota Yogyakarta mengikuti Pekan Flora Flori 2013. Pameran ini merupakan ajang Pameran Hortikultura Indonesia berskala internasional yang menjadi agenda tahunan nasional Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian. Bersama dengan Dimas Diajeng Sleman, Putra Putri Bantul dan Dimas Diajeng DIY diarak menggunakan andong yang sudah dihias dengan palawija yang begitu kreatif dan cantik.

Kota Yogyakarta dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan PF2N 2013 karena Yogyakarta dinilai memiliki potensi yang luar biasa untuk mendukung kemajuan hortikultura nasional. Adanya sumber daya yang dimiliki Yogyakarta antara lain potensi sumber daya manusia,

Berbagi Cerita di Panti Wredha Budi Dharma

DSC_0855Kalau biasanya kita mendengar istilah bakti sosial ketika memasuki bulan Ramadhan dengan membagikan buku, baju atau sembako gratis, Paguyuban Dimas Diajeng Jogja mengadakan sebuah kegiatan bakti sosial yang berbeda dari biasanya. Kegiatan tersebut bertajuk  BAROKAH, dimaknai sebagai Bakti Roso Sosial lan Sedekah.

Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 2013, Pukul 14.00 WIB, di Panti Wredha Budi Dharma Giwangan. Dalam kegiatan ini Paguyuban Dimas Diajeng Jogja mengadakan

Ngonthel Pinter

G7D_6301Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota besar di Indonesia.  Sebagai kota pendidikan dan kebudayaan, Yogyakarta tumbuh menjadi kota yang memiliki toleransi tinggi dalam akulturasi budaya sehingga membentuk karakter kota Yogyakarta. Keanekaragaman budaya di Yogyakarta juga menjadi salah satu potensi lokal Yogyakarta. Mulai dari budaya Belanda, Tionghoa juga Mataram Islam yang menarik perhatian. Selain akrab dengan sebutan kota budaya, perkembangan dunia yang pesat membuat Yogyakarta banyak didatangi pelajar dari seluruh penjuru Indonesia sehingga Yogyakarta disebut kota pelajar. Dengan latar belakang ini, Kelompok 3 Finalis Dimas Diajeng Kota Jogja 2013 menyelenggarakan sebuah program untuk menambah ilmu pariwisata dan budaya dengan cara yang menyenangkan  (fun) kepada para peserta dan masyarakat, yaitu bersepeda bersama sambil mengunjungi ikon-ikon pariwisata yang ada di Kota Yogyakarta.

269115_1954172967285_876176_n

Tourist Information Service

Dimas dan Diajeng Kota Jogja, tidak hanya bertugas seperti yang kebanyakan orang duga yang hanya tampil dalam pawai atau mendampingi Kepala Dinas atau pejabat lainnya dalam suatu acara. Tetapi Dimas dan Diajeng juga aktif dalam kegiatan promosi atau memperkenalkan pariwisata Kota Jogja. Salah satu agenda yang sering dilakukan adalah bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta serta Himpunan Pramuwisata Indonesia mengadakan stand Tourist Information Service. Stand ini diadakan setiap menjelang, selama dan sesudah musim liburan berlangsung (peak season) di beberapa titik strategis di Kota Yogyakarta.
Dimas dan Diajeng diatur secara bergiliran untuk berjaga di Stand Tourist Information ini.

IMG_1580s

Tari Golek Lambang Sari

Kekayaan budaya dan seni tradisional menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Yogyakarta yang memiliki predikat sebagai kota budaya menekankan nilai tradisi dalam kehidupan sehari-harinya. Banyak sekali seniman yang kemudian merepresentasikan kegiatan sehari-harinya dalam sebuah karya seni.
Adalah tari Golek Lambangsari yang menceritakan tentang seorang gadis yang sedang beranjak dewasa. Gadis ini diceritakan sebagai sosok yang mulai pandai bersolek dengan di dalamnya ditampilkan berbagai macam gerakan seperti seseorang sedang memegang cermin, memasang gincu, memakai bedak dan sebagainya.
Tari ini pertamakali diciptakan oleh KRT Purbaningrat dan masuk dalam kategori tari klasik yang ditarikan dengan ragam tari klana alus. Diiringi dengan gendhing seperti nama tarian tersebut yaitu gendhing Lambangsari.
Semula tari ini satu-satunya tari yang dimainkan oleh seorang putri tunggal seperti yang dimaksud dalam judul tarian ini.

IMG_6761

Pameran “Ayo ke Jogja!” di Kota Malang

Pada tanggal 10 – 12 November 2012, Paguyuban Dimas Diajeng Jogja bersama Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta mengunjungi Kota Malang dalam rangka menyelenggarakan acara yang bertajuk “Ayo ke Jogja”. Acara ini menampilkan pameran pariwisata yang ada di Kota Yogyakarta, baik wisata kuliner, wisata pendidikan, wisata budaya maupun wisata minat khusus dan kerajinan. Selain itu, ada juga penampilan dan pertunjukkan seni yang dibawakan oleh Dimas Diajeng Kota Jogja. Acara ini merupakan salah satu program kerja dari Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta untuk mempromosikan wisata-wisata yang ada di Kota Yogyakarta.
Banyak hal yang dipamerkan selama tiga hari di Kota Malang. Mulai dari wisata kuliner seperti Bakpia, Wingko dan juga Tela Cake. Kemudian ada pula pameran kerajinan Batik serta Tenun Lurik. Selain itu, dipromosikan juga objek-objek wisata baru yang ada di kota Yogyakarta, salah satunya yaitu XT Square.
Sehari sebelum diselenggarakannya acara tersebut, Dimas Odi dan Dimas Surya mengadakan promosi yang bekerjasama dengan Radio Kencana FM Malang untuk berbincang-bincang mengenai acara “Ayo ke Jogja” ini.

Upacara Merti Desa

Yogyakarta, sebuah kota yang  selalu menyimpan sejuta  keistemewaan. Tidak hanya penduduknya yang dikenal dengan keramahannya atau pun peninggalan sejarah yang bernilai tinggi, namun juga memiliki kearifan lokal yang sangat banyak. Salah satunya Merti Desa atau bersih desa. Pada hakikatnya merupakan sebuah kegiatan yang menjadi simbol rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas segala karunia yang diberikan-Nya. Karunia tersebut bisa berupa apa saja seperti rezeki, keselamatan atau juga kesalarasan dan ketentraman. Lebih dari itu, Merti Desa juga merupakan sarana untuk para penduduk bisa membina tali silaturahmi, saling menghormati, serta saling menghargai.
Selain sebagai wujud rasa syukur kepada Yang Maha Esa, Merti Desa juga merupakan sebuah perwujudan keselarasan manusia dengan alam. Dalam upacara Merti Desa selalu ada Gunungan yang dijadikan persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Gunungan tersebut isinya bisa bermacam-macam. Namun pada umumnya Gunungan dibuat dari hasil bumi lokal seperti buah pisang, ketela rambat atau sayur-sayuran.
Tata cara Merti Desa biasanya diawali dengan pengambilan air dari sendang atau sumber air setempat dengan menggunakan kendi.

Travel Dialog ke Kota Medan

Program Travel dialog adalah salah satu kegiatan promosi pariwisata Kota Yogyakarta ke luar daerah yang diadakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta tentunya bekerja sama dengan Paguyuban Dimas Diajeng Jogja. Acara ini dilaksanakan untuk saling bertukar pikiran mengenai semua hal yang terkait dengan Pariwisata dengan menghadirkan stakeholder pariwisata yang ada di daerah tersebut.
Kali ini, Diajeng Ririn berkesempatan untuk menjadi wakil dari Paguyuban Dimas Diajeng Jogja untuk melaksanakan program Travel Dialog tersebut ke Kota Medan. Acara ini berlangsung dari tanggal 25 – 27 September 2012.
Dimulai pada kunjungan hari pertama, rombongan tiba di Medan pada sore hari setelah menempuh perjalanan menggunakan dua rute maskapai, yaitu Jogja-Jakarta dan Jakarta-Medan. Setelah bertemu dengan Dinas Pariwisata Kota Medan dan meletakkan barang di Hotel Inna Dharma Deli, rombongan segera melanjutkan perjalanan untuk mencicipi kuliner khas pulau Sumatera, yaitu buah Durian.

Pawai Becak

Pawai Simpatik Becak

Pada hari Minggu tanggal 15 Juli 2012, Majelis Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah menggelar konvoi simpatik yang melibatkan ratusan pengemudi becak Yogyakarta. Pengemudi becak ini tergabung dalam Paguyuban Abang Becak Ahmad Dahlan. Aksi yang bertajuk “From Becak For Yogya Tourism” ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian pada profesi tukang becak yang selama ini menjadi salah satu ikon budaya, transportasi ramah lingkungan di wilayah Yogyakarta.
Paguyuban Dimas dan Diajeng Jogja berkesempatan untuk berpartisipasi dalam acara tersebut. Dimas dan Diajeng yang bertugas pada acara ini yaitu Dimas Bagas, Dimas Odi, Dimas Indra, Diajeng Wiwid, Diajeng Icha dan Diajeng Ushi.
Pawai simpatik becak dimulai pukul 09.00 WIB dengan titik awal keberangkatan di halaman kantor Dinas Pariwisata DIY, Jalan Malioboro, Yogyakarta.

Olmus

Olimpiade Museum

Kepedulian museum harus dikembangkan sejak dini. Oleh karena itu sasaran utama pengembangan museum sebagai media pembelajaran adalah para pelajar atau remaja. Bentuk-bentuk kegiatan yang dapat dikembangkan sebagai proses pengenalan dan pembelajaran sejarah serta pembentukan karakter budaya antara lain seperti touring museum, outbond museum, olimpiade museum dan carnaval museum dengan latar belakang kegiatan yang bersifat kompetitif dan menyenangkan. Notabene pelajar memiliki daya saing yang tinggi sehingga kegiatan tersebut dapat menjadi fasilitator pengembangan diri.
Minat generasi muda terhadap museum perlu ditumbuhkan, salah satu kegiatan nyata yang telah dilakukan adalah penyelenggaraan Olimpiade Museum yang diadakan oleh Friends Of Museum Kota Yogyakarta bekerjasama dengan Paguyuban Dimas Diajeng Jogja pada Tanggal 6 Mei 2012. Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk kompetisi kreatif yang diikuti oleh pelajar SMP dan SMA se-Kota Yogyakarta.
Tidak seperti olimpiade-olimpiade biasanya yang hanya mengandalkan kecakapan dalam berfikir,

Design Downloaded from free wordpress themes | free website templates | Free Web Icons | Funny Sport Videos.